Selasa, 04 Juni 2013

Nikmat Semu Orde Baru



15 tahun sudah turunnya Soeharto dari kursi kepresiden Republik Indonesia sekaligus berakhirnya 32 Tahun kekuasaan rezim orde baru di Negeri ini. Ternyata, belum banyak perubahan yang terjadi pasca runtuhnya rezim orde baru
. Bahkan beberapa kelompok mengatakan tahun-tahun pasca reformasi dilalui lebih buruk dari orde baru sendiri. 6 tuntutan reformasi belum semua dapat di kabulkan oleh penguasa setelah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Korupsi Kolusi dan Nepotisme masih menjamur di berbagai lembaga negara maupun swasta, amandemen UUD 1945 yang dilakukan tidak berdaulat kepada rakyat. Bahkan hasil manademen UUD 1945 menjadi alat penguasa untuk menindas rakyat.

Supremasi hukum lagi-lagi gagal dilakukan karena hukum hanya menjadi kepanjangan tangan dari para pemilik modal di negeri ini. Otonomi daerah yang digadang-gadang menjadi sistem yang efektif untuk menjangkau rakyat sampai kewilayah terpencil sekalipun dan menjadi sistem terbuka untuk mencegah adanya sentralisasi kekuasaan pun telah terbukti gagal.

Bagaimana bisa kita semua mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan juga melanjutkan perjuangan pasca Reformasi jika pilihan yang ada sebenarnya sisa dari rezim orde baru. Bahkan sekarang marak bermunculan tulisan “lebih enak jamanku tho?” dengan gambar Soeharto. Dari gambar tersebut bisa kita lihat ada upaya dari kelompok tertentu untuk membawa lagi euforia kejayaan yang semu pada masa orde baru.

Jika kita lihat dari harga-harga bahan pokok yang lebih murah pada zaman Soeharto, kurs rupiah stabil, dan juga keamanan sosial yang dapat dikendalikan oleh aparat (TNI dan POLISI). Bisa kita ingat upaya-upaya yang di laukan rezim orde baru untuk menekan suara-suara kritis rakyat Indonesia, penculikan ada dimana-mana, pembredelan media-media yang tidak satu frame dengan penguasa dan kita juga cukup kenyang dengan tindakan represif aparat terhadap rakyat. Dan apa hal-hal seperti itu yang dikatakan “lebih enak jaman ku tho?”. Hutang negara 46,88 Triliyun rupiah pertahun atau hampir 1.500 Triliyun rupiah pada zaman kekuasaan orde baru. Belum lagi hutang luar negeri yang mencapai 171,8 miliyar dollar Amerika (data: world bank 1999)  sampai tahun 1998. Belum lagi kita dihadapkan dengan Undang Undang Nomor: 1 Tahun 1967 yang disahkan oleh Soeharto, tentang Penanaman Modal Asing untuk menguatkan masuknya Freeport di Indonesia tahun 1968. dan sekarang kita  bisa rasakan pahitnya kita sebagai bangsa Indonesia kehilangan sumber daya alam yang hampir seluruhnya dijual dan dikuasai oleh pemodal asing. 



Belum lagi bisa kita ingat bagaimana kasus penculikan dan pembunuhan terhadap aktivis dan kelompok-kelompok yang dianggap bersebrangan dengan pemerintahan Orde baru. Dari bayangan masa lalu itu, jelas kita tidak bisa membandingkan dengan masa sekarang ini. Memang masa sekarang juga tidak begitu baik untuk rakyat Indonesia, kebijakan pemerintah masih begitu lekat dengan keuntungan para pemilik modal. Rakyat masih saja dijadikan alat kampanye 5 tahunan, setelah kampanye berakhir, berakhir juga keterihakan penguasa terhadap rakyat.

Sekarang di jaman yang begitu mendesak, terdesak juga kita mulai berfikir tentang kepemimpinan dan sistem alternatif untuk menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak rakyat dan juga untuk melawan kaki-kaki kapitalisme di negeri ini. Jangan kita terjebak dengan kejayaan masa lalu yang sebenarnya begitu semu untuk dikatakan menjadi negara yang ideal. Inilah saatnya kita berfikir bagaimana bisa menjauhkan petani dari tengkulak tengkulak yang selalu membuat petani seakan-akan gagal panen setiap musim panen tiba. Sistem yang mampu menguatkan  perekonomian nelayan untuk melawan badai-badai yang diciptakan cukong-cukong dengan momok koperasi simpan pinjam.  

Kita tidak bisa hanya mengingat-ingat seberapa murah harga Bahan Bakar Minyak pada zaman orde baru, tidak bisa kita hanya mengatakan seberapa aman trotoar-trotoar jalan pada masa orde baru. Karena trotoar itu hanya aman untuk kelompok yang patuh kepada Penguasa.

Hanya pada zaman orde baru bahan bakar minyak dan harga bahan pokok murah, tetapi juga nyawa setiap pengkritisi kebijakan, nyawa setia pejuang hak rakyat dan nyawa setiap kelompok yang bersebrangan. Bagi saya hal-hal seperti ini adalah aib orde baru yang tidak bisa rakyat Indonesia maafkan. Akhir dari tulisan ini saya mengutip salah satu puisi dari seniman yang hilang dan menjadi korban kejamnya Orde Baru, Wiji Thukul:

     
                                                    Kekuasaan yang sewenang-wenang
Keuasaan yang sewenang-wenang
Membuat rakyat selalu berjaga-jaga
Dan tak bisa tidur tenang

Sampai mereka sendiri lupa
Batas usianya berapa

Dan dalam diamnya
Rakyat ternyata bekerja
Menyiapkan kuburnya

Lalu mereka bersorak
Ini kami siapkan untukmu Tiran!
Penguasa yang lalim
Ketika mati ditangisi rakyatnya

Sungguh memilukan
Kematian yang disyukuri dengan tepuk tangan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar